Diare pada bayi dan balita bukan hanya masalah frekuensi buang air besar yang meningkat. Kondisi ini perlu diperhatikan karena tubuh anak dapat kehilangan air dan elektrolit dalam jumlah cukup banyak melalui tinja cair, muntah, serta berkurangnya asupan cairan. Jika cairan yang hilang tidak segera digantikan, anak dapat mengalami dehidrasi.
Menurut World Health Organization (WHO), dehidrasi merupakan komplikasi paling serius dari diare. Air dan elektrolit seperti natrium, klorida, kalium, serta bikarbonat dapat ikut hilang selama diare. Risiko ini menjadi lebih penting pada bayi karena cadangan cairan tubuhnya relatif kecil dan mereka belum dapat meminta minum sendiri.
Orang tua karena itu perlu mengetahui tanda-tanda yang bisa diamati di rumah. Beberapa di antaranya cukup mudah dikenali, misalnya mulut kering, air mata berkurang, popok lebih jarang basah, anak sangat haus, atau anak justru tampak lemas.
Namun, tidak semua tanda mempunyai tingkat ketepatan yang sama. Mata cekung, misalnya, dapat menjadi tanda dehidrasi tetapi juga dapat terlihat pada kondisi tertentu seperti malnutrisi. Karena itu, tanda-tanda tersebut sebaiknya dinilai secara keseluruhan dan bukan digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk menentukan kondisi anak.
Penanganan awal yang paling penting adalah mengganti cairan dan elektrolit yang hilang menggunakan oralit atau oral rehydration solution (ORS), tetap memberikan ASI, melanjutkan makanan sesuai kemampuan anak, serta memberikan zinc sesuai anjuran tenaga kesehatan. Jika anak menunjukkan tanda dehidrasi berat, tidak mampu minum, mengalami penurunan kesadaran, atau kondisinya memburuk, pertolongan medis harus segera diberikan.
Mengapa Diare pada Bayi dan Balita Bisa Menyebabkan Dehidrasi?
Diare adalah kondisi ketika anak buang air besar dengan tinja cair atau lebih sering dari biasanya. WHO mendefinisikan diare sebagai buang air besar dengan tinja cair atau lembek setidaknya tiga kali dalam sehari, atau lebih sering daripada pola normal anak tersebut. Pada bayi yang masih mendapatkan ASI, tinja yang memang secara normal lunak atau cair tidak otomatis berarti diare.
Ketika diare terjadi, cairan keluar bersama tinja. Apabila anak juga muntah atau tidak mau minum, kehilangan cairan dapat menjadi semakin besar.
Masalahnya bukan hanya air yang hilang. Elektrolit seperti natrium dan kalium juga ikut keluar. Inilah alasan mengapa memberikan oralit lebih tepat daripada hanya mengandalkan air putih ketika anak mengalami diare.
Oralit dirancang untuk membantu menggantikan air sekaligus elektrolit yang hilang. WHO merekomendasikan oralit dengan osmolaritas rendah sebagai salah satu terapi utama diare anak.
6 Tanda Dehidrasi pada Bayi dan Balita yang Perlu Diperhatikan
Tidak semua anak akan menunjukkan tanda yang sama. Pada tahap awal, perubahan mungkin sangat ringan. Seiring kehilangan cairan bertambah, tanda-tandanya menjadi lebih jelas.
Berikut enam tanda yang perlu diperhatikan orang tua.
1. Ubun-Ubun Tampak Cekung dan Mata Terlihat Sayu
Pada bayi, salah satu bagian yang dapat diamati adalah ubun-ubun atau fontanel. Ubun-ubun merupakan area lunak di antara tulang tengkorak bayi yang belum menutup sempurna.
Ketika bayi mengalami kekurangan cairan, ubun-ubun dapat tampak lebih cekung dibandingkan biasanya. Mata juga dapat terlihat cekung atau sayu.
Mata cekung merupakan salah satu tanda yang digunakan dalam penilaian dehidrasi oleh WHO. Dalam klasifikasi WHO, mata cekung dapat muncul pada dehidrasi tingkat tertentu, tetapi tingkat keparahannya harus dinilai bersama tanda lain.
Orang tua sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa bayi mengalami dehidrasi hanya karena ubun-ubunnya tampak sedikit berbeda. Bentuk ubun-ubun dapat dipengaruhi posisi bayi, kondisi tubuh, serta faktor lain.
Yang lebih penting adalah melihat perubahan dari kondisi normal anak.
Jika mata tampak semakin cekung dan bayi juga jarang buang air kecil, sulit minum, mulut kering, atau tampak sangat lemas, jangan menunggu tanda lainnya muncul sebelum mencari pertolongan medis.
2. Popok Tetap Kering Lebih dari 6 Jam atau Urine Menjadi Sangat Pekat
Frekuensi buang air kecil merupakan salah satu cara praktis untuk memantau kecukupan cairan bayi.
Ketika tubuh kekurangan cairan, ginjal akan berusaha menghemat air. Akibatnya, produksi urine dapat berkurang dan popok menjadi lebih jarang basah.
Popok yang jauh lebih jarang basah daripada biasanya patut menjadi perhatian. Pada beberapa sumber klinis untuk orang tua, berkurangnya frekuensi buang air kecil atau hanya sedikit popok basah digunakan sebagai tanda peringatan dehidrasi.
Meski demikian, angka enam jam bukan batas diagnosis yang mutlak. Pola buang air kecil bayi dapat berbeda berdasarkan usia, asupan ASI atau susu, suhu lingkungan, dan kondisi kesehatan.
Yang perlu diperhatikan adalah perubahan yang jelas dari kebiasaan anak.
Misalnya, bayi biasanya sering membasahi popok, tetapi selama diare popok jauh lebih lama tetap kering. Jika kondisi tersebut disertai mulut kering, tidak mau minum, mata cekung, atau anak tampak lemah, orang tua perlu segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Urine yang menjadi jauh lebih sedikit dan lebih pekat juga dapat menjadi petunjuk bahwa tubuh sedang mempertahankan cairan.
3. Mulut dan Bibir Kering atau Terasa Lengket
Mulut yang biasanya lembap dapat menjadi kering ketika produksi air liur berkurang akibat kehilangan cairan.
Orang tua mungkin melihat bibir kering, lidah kering, atau bagian dalam mulut tampak lengket. Pada bayi, tanda ini dapat disertai kesulitan menyusu karena anak merasa tidak nyaman.
Mulut kering sendiri tidak cukup untuk menentukan bahwa anak mengalami dehidrasi berat. Namun, jika tanda ini muncul bersama beberapa gejala lainnya, perhatian perlu ditingkatkan.
Kondisi dehidrasi dapat membuat anak mengalami kekurangan cairan yang memengaruhi berbagai fungsi tubuh. Semakin banyak cairan yang hilang dan semakin sedikit cairan yang masuk, semakin besar risiko kondisi anak memburuk.
Karena itu, ketika bayi atau balita mengalami diare, jangan menunggu sampai mulut benar-benar kering untuk mulai mengganti cairan. Oralit dapat diberikan sejak awal sesuai petunjuk penggunaannya, sementara ASI tetap dilanjutkan.
4. Menangis tetapi Tidak Mengeluarkan Air Mata
Bayi dan balita umumnya mengeluarkan air mata ketika menangis. Ketika cairan tubuh berkurang, produksi air mata dapat ikut menurun.
Akibatnya, orang tua mungkin melihat anak menangis dengan sedikit atau tanpa air mata.
Berkurangnya air mata merupakan salah satu tanda yang dapat membantu orang tua mencurigai dehidrasi. CDC juga memasukkan sedikit atau tidak adanya air mata saat menangis sebagai salah satu tanda dehidrasi pada bayi.
Namun, tanda ini juga harus dilihat bersama kondisi lain.
Bayi yang menangis tanpa air mata sekali belum tentu mengalami dehidrasi. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika perubahan tersebut terjadi bersamaan dengan popok yang semakin jarang basah, mulut kering, mata cekung, dan anak menjadi sangat lemas atau sulit minum.
Jika beberapa tanda muncul bersamaan, sebaiknya jangan menunggu sampai diare berhenti dengan sendirinya.
5. Anak Sangat Haus, Sangat Lemas, atau Justru Rewel Berlebihan
Perubahan perilaku sering menjadi tanda yang mudah diperhatikan oleh orang tua karena orang tua paling mengetahui kebiasaan anak.
Pada dehidrasi tertentu, anak dapat terlihat sangat haus dan ingin minum terus-menerus. WHO memasukkan kondisi anak yang minum dengan lahap atau tampak sangat haus sebagai salah satu tanda some dehydration.
Sebaliknya, pada kondisi yang lebih berat, anak justru dapat terlihat sangat lemas, mengantuk, sulit dibangunkan, atau responsnya menurun.
WHO menggunakan letargi atau penurunan kesadaran sebagai salah satu tanda penting dalam klasifikasi dehidrasi berat. Anak yang tidak mampu minum atau minum sangat buruk juga memerlukan penanganan segera.
Rewel juga dapat muncul ketika anak mengalami dehidrasi atau merasa tidak nyaman. Namun, rewel saja tidak dapat digunakan untuk mendiagnosis dehidrasi.
Perhatikan kombinasi gejala. Anak yang sangat haus tetapi masih aktif dan mampu minum tentu berbeda kondisinya dengan anak yang justru tidak mampu minum, sangat mengantuk, atau sulit dibangunkan.
6. Kulit Lambat Kembali Setelah Dicubit Lembut
Turgor kulit adalah istilah medis untuk menggambarkan elastisitas kulit. Pemeriksaan ini digunakan untuk melihat seberapa cepat kulit kembali setelah sedikit dicubit dan dilepaskan.
Ketika tubuh mengalami kekurangan cairan, elastisitas kulit dapat menurun. Dalam pemeriksaan klinis, tenaga kesehatan dapat mencubit lipatan kulit secara hati-hati kemudian melihat kecepatannya kembali ke posisi semula.
WHO menggunakan skin pinch yang kembali sangat lambat sebagai salah satu tanda dehidrasi berat, terutama bila muncul bersama tanda lainnya.
Namun, orang tua tidak sebaiknya menjadikan pemeriksaan cubit kulit sebagai satu-satunya metode untuk menentukan kondisi anak.
Teknik pemeriksaan yang benar memerlukan pengalaman. Usia, status gizi, dan karakteristik kulit juga dapat memengaruhi hasil pemeriksaan.
Karena itu, jika kulit anak tampak kurang elastis sekaligus anak mengalami mata cekung, tidak mampu minum, sangat lemas, dan produksi urine menurun, anggap kondisi tersebut sebagai keadaan yang membutuhkan pertolongan medis segera.
Cara Mengenali Dehidrasi Ringan, Sedang, dan Berat
WHO mengklasifikasikan dehidrasi pada anak berdasarkan kombinasi tanda klinis.
Pada dehidrasi berat, setidaknya dua dari tanda berikut dapat ditemukan:
- Anak sangat lemas atau mengalami penurunan kesadaran.
- Mata cekung.
- Tidak mampu minum atau minum sangat buruk.
- Cubitan kulit kembali sangat lambat.
Sementara itu, pada kondisi some dehydration atau dehidrasi yang belum berat, beberapa tanda yang dapat muncul antara lain anak gelisah atau mudah marah, mata cekung, serta minum dengan lahap karena haus.
Artinya, satu gejala saja tidak selalu cukup untuk menentukan tingkat dehidrasi.
Kombinasi tanda jauh lebih penting.
Misalnya, bayi yang matanya sedikit cekung tetapi masih aktif, menyusu dengan baik, dan popok tetap basah belum tentu mengalami dehidrasi berat. Sebaliknya, bayi yang tidak mau menyusu, popoknya sangat jarang basah, sangat mengantuk, dan matanya cekung membutuhkan evaluasi medis segera.
Langkah Pertolongan Pertama Saat Anak Diare
Berikan Oralit untuk Mengganti Cairan dan Elektrolit
Oralit atau ORS adalah larutan yang mengandung air dan elektrolit dengan komposisi yang dirancang untuk membantu tubuh menyerap kembali cairan yang hilang akibat diare.
Oralit bukan sekadar air biasa.
Kandungan elektrolit dan glukosa di dalamnya membantu proses penyerapan air di usus. Karena itu, oralit menjadi bagian penting dari penanganan diare pada anak.
Berikan oralit sedikit demi sedikit tetapi sering.
Untuk anak yang masih kecil, cairan dapat diberikan menggunakan sendok atau cangkir kecil. Jangan memaksa anak minum dalam jumlah besar sekaligus karena hal tersebut dapat memicu muntah.
Jika anak muntah, pedoman klinis WHO menyarankan menunggu sekitar 10 menit, kemudian memberikan oralit kembali secara lebih perlahan.
Untuk anak tanpa tanda dehidrasi, panduan WHO menggunakan tambahan cairan sekitar:
| Usia | Tambahan ORS setelah BAB cair |
|---|---|
| Di bawah 2 tahun | 50–100 ml |
| 2 tahun atau lebih | 100–200 ml |
Jumlah tersebut merupakan panduan dan bukan berarti anak harus dipaksa menghabiskan cairan sekaligus.
Untuk anak dengan dehidrasi yang memerlukan Plan B, jumlah oralit dihitung berdasarkan berat badan dan diberikan dengan pemantauan tenaga kesehatan. Pedoman klinis menggunakan perkiraan 75 ml/kg selama periode rehidrasi awal, kemudian anak dinilai kembali.
Jika anak menunjukkan tanda dehidrasi berat, jangan mencoba menangani kondisi tersebut sendiri di rumah.
Tetap Berikan ASI
Bayi yang masih menyusu tetap perlu mendapatkan ASI selama mengalami diare.
ASI menyediakan cairan dan nutrisi sekaligus membantu mempertahankan asupan energi anak. WHO merekomendasikan melanjutkan pemberian ASI selama episode diare.
Tidak perlu menghentikan ASI hanya karena anak mengalami diare.
Jika bayi ingin menyusu lebih sering, berikan sesuai kebutuhan. Untuk bayi yang mendapatkan ASI eksklusif, oralit dapat diberikan sebagai tambahan ketika mengalami diare, bukan menggantikan ASI.
Berikan Zinc Sesuai Anjuran
Zinc merupakan mikronutrien yang berperan dalam pertumbuhan, fungsi kekebalan tubuh, serta berbagai proses sel.
Pemberian zinc pada anak yang mengalami diare telah terbukti dapat membantu mengurangi durasi dan tingkat keparahan diare. WHO secara umum merekomendasikan suplementasi zinc sebagai bagian dari penanganan diare anak.
Pedoman WHO yang tersedia saat ini mencantumkan:
- Bayi di bawah 6 bulan: 10 mg zinc per hari.
- Anak 6 bulan atau lebih: 20 mg zinc per hari.
- Durasi pemberian umumnya 10–14 hari, mengikuti pedoman dan arahan tenaga kesehatan.
Di Indonesia, sejumlah pedoman Kementerian Kesehatan juga mencantumkan pemberian zinc selama 10 hari, dengan dosis 10 mg per hari untuk usia di bawah 6 bulan dan 20 mg per hari untuk usia 6 bulan ke atas.
Karena formulasi dan konsentrasi produk zinc dapat berbeda, orang tua sebaiknya mengikuti dosis pada produk dan petunjuk dokter, bidan, apoteker, atau tenaga kesehatan.
Tetap Berikan Makanan
Diare tidak berarti anak harus dipuasakan.
Anak yang sudah mendapatkan makanan pendamping ASI atau makanan keluarga tetap perlu mendapatkan makanan sesuai kemampuan. WHO menekankan pentingnya mempertahankan asupan nutrisi selama diare.
Jika nafsu makan turun, berikan makanan dalam porsi kecil tetapi lebih sering. Pilih makanan yang biasa dikonsumsi anak dan mudah diterima.
Tujuannya adalah mencegah anak semakin kehilangan energi dan nutrisi selama sakit.
Kapan Anak Harus Segera Dibawa ke IGD?
Orang tua sebaiknya tidak menunggu sampai semua tanda dehidrasi muncul.
Segera cari pertolongan medis apabila anak:
- Tidak mampu minum atau menyusu.
- Sangat lemas, mengantuk berlebihan, sulit dibangunkan, atau mengalami penurunan kesadaran.
- Mata tampak sangat cekung disertai tanda dehidrasi lainnya.
- Buang air kecil jauh lebih sedikit dari biasanya.
- Mengalami muntah terus-menerus sehingga cairan sulit masuk.
- Menunjukkan tanda dehidrasi berat.
- Memiliki darah dalam tinja.
- Mengalami diare yang semakin parah.
- Kondisinya memburuk meskipun sudah diberikan cairan.
WHO menyatakan bahwa anak dengan tanda dehidrasi berat dapat membutuhkan rehidrasi intravena atau penanganan medis segera.
Khusus bayi yang masih sangat kecil, ambang untuk memeriksakan diri sebaiknya lebih rendah karena kondisi bayi dapat berubah lebih cepat.
Hal yang Sebaiknya Tidak Dilakukan Saat Anak Diare
Jangan Mengandalkan Air Putih Saja
Air putih memang merupakan cairan, tetapi tidak dirancang untuk menggantikan elektrolit yang hilang akibat diare.
Oralit lebih tepat untuk rehidrasi diare karena mengandung kombinasi air, garam, dan glukosa dengan komposisi yang dirancang untuk membantu penyerapan cairan.
Jangan Memberikan Minuman Bersoda
Minuman bersoda bukan pengganti oralit. Kandungan gula dan komposisinya tidak dirancang untuk terapi rehidrasi.
Kementerian Kesehatan juga mengingatkan agar orang tua tidak memberikan minuman bersoda atau jus sebagai penanganan utama diare anak.
Jangan Memberikan Obat Antidiare Sembarangan
Obat untuk menghentikan diare pada orang dewasa tidak otomatis aman untuk bayi dan balita.
Diare merupakan mekanisme tubuh untuk mengeluarkan penyebab gangguan dari saluran pencernaan. Penanganan anak harus berfokus pada mengganti cairan, mempertahankan nutrisi, dan menangani penyebab atau komplikasi jika diperlukan.
Antibiotik juga tidak boleh diberikan sembarangan. Sebagian besar diare akut pada anak tidak membutuhkan antibiotik, dan penggunaannya harus berdasarkan indikasi medis. WHO menekankan penggunaan antimikroba secara selektif pada kondisi tertentu.
Cara Memantau Kondisi Anak di Rumah
Orang tua dapat membuat pemantauan sederhana selama anak mengalami diare.
Catat:
- Berapa kali anak BAB.
- Apakah tinjanya cair atau terdapat darah.
- Berapa kali anak muntah.
- Seberapa banyak anak mau minum atau menyusu.
- Seberapa sering popok basah.
- Apakah anak masih aktif atau mulai lemas.
- Apakah mata terlihat lebih cekung dari biasanya.
- Apakah mulut dan bibir mulai kering.
- Apakah anak masih mengeluarkan air mata saat menangis.
- Apakah kondisinya membaik atau justru semakin buruk.
Pemantauan seperti ini membantu orang tua mengenali perubahan lebih cepat dan memberikan informasi yang berguna ketika berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Perbandingan Tanda Dehidrasi dan Tindakan yang Sebaiknya Dilakukan
| Tanda yang Diamati | Apa Artinya | Tingkat Kewaspadaan | Tindakan Orang Tua |
|---|---|---|---|
| Ubun-ubun atau mata tampak cekung | Dapat menunjukkan berkurangnya cairan tubuh | Perlu diperhatikan, terutama jika disertai tanda lain | Berikan cairan sesuai kondisi dan pantau tanda lain |
| Popok lebih jarang basah / urine sedikit | Produksi urine dapat berkurang ketika tubuh menghemat cairan | Perlu perhatian lebih | Pantau asupan cairan dan konsultasikan bila terus berkurang |
| Mulut, bibir, atau lidah kering | Produksi air liur dapat menurun akibat kekurangan cairan | Ringan hingga mengkhawatirkan jika disertai gejala lain | Berikan oralit sedikit-sedikit dan sering |
| Menangis tanpa air mata | Produksi air mata dapat berkurang | Tanda peringatan | Evaluasi tanda dehidrasi lainnya |
| Sangat haus atau rewel | Dapat menjadi tanda dehidrasi | Perlu dipantau | Berikan cairan dan lihat kemampuan anak minum |
| Sangat lemas atau sulit dibangunkan | Dapat menunjukkan kondisi serius | Darurat | Segera ke fasilitas kesehatan/IGD |
| Kulit lambat kembali setelah dicubit | Penurunan elastisitas kulit dapat berkaitan dengan dehidrasi | Mengkhawatirkan jika sangat lambat dan disertai tanda lain | Segera dinilai tenaga kesehatan |
| Tidak mampu minum/menyusu | Salah satu tanda penting dehidrasi berat | Darurat | Segera mencari pertolongan medis |
| Muntah terus-menerus | Cairan yang diberikan sulit dipertahankan | Darurat bila menyebabkan anak tidak bisa minum | Segera konsultasikan atau ke fasilitas kesehatan |
| Ada darah dalam tinja | Dapat menunjukkan kondisi yang membutuhkan evaluasi | Perlu pemeriksaan medis | Segera bawa anak ke tenaga kesehatan |
Satu tanda saja belum tentu cukup untuk menentukan derajat dehidrasi. WHO menilai dehidrasi berdasarkan kombinasi beberapa tanda klinis, terutama kondisi kesadaran, kemampuan minum, mata cekung, dan pemeriksaan turgor kulit.
Inti yang Perlu Diingat Orang Tua
Diare pada bayi dan balita perlu ditangani dengan serius terutama karena risiko dehidrasi. Semakin kecil usia anak, semakin penting orang tua memperhatikan asupan cairan, frekuensi buang air kecil, kemampuan menyusu, tingkat aktivitas, dan perubahan perilaku.
Enam tanda yang dapat menjadi peringatan adalah mata atau ubun-ubun tampak cekung, popok semakin jarang basah, mulut kering, tidak ada air mata ketika menangis, perubahan rasa haus atau perilaku, serta kulit yang kembali lambat setelah dicubit.
Namun, jangan menunggu semua tanda tersebut muncul. Anak yang sudah tidak mampu minum, sangat lemas, sulit dibangunkan, mengalami muntah berulang, atau menunjukkan tanda dehidrasi berat membutuhkan pertolongan medis segera.
Untuk pertolongan awal, oralit menjadi pilihan utama untuk mengganti cairan dan elektrolit, sedangkan ASI tetap dilanjutkan. Zinc dapat diberikan sesuai dosis dan arahan tenaga kesehatan. Makanan juga sebaiknya tetap diberikan sesuai kemampuan anak.
Yang paling penting, orang tua tidak perlu panik tetapi juga jangan meremehkan diare. Kemampuan anak untuk minum, tingkat kesadaran, dan jumlah urine merupakan beberapa hal yang sangat penting untuk terus dipantau. Bila muncul tanda bahaya atau kondisi anak memburuk, segera bawa ke fasilitas kesehatan.
Catatan: artikel ini ditujukan sebagai informasi umum dan bukan pengganti pemeriksaan dokter. Pada bayi dan balita, terutama ketika terdapat tanda dehidrasi, konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan tetap menjadi pilihan paling aman.